Arsip | April, 2013

#32..SEMPURNA

25 Apr

Gerimis memaksaku menepi di sebuah restoran kecil disamping  arena bermain anak-anak. Aku tak mau malam yang telah lama kunanti ini berantakan gara-gara Sandra masuk angin. Ya, Sandra. Wanita cantik yang dengan anggun turun dari motorku, membuka helm dan mengibaskan rambut panjangnya sambil mengurai senyum yang membuatku mabuk kepayang.

Kami memilih duduk di sudut sehingga pandangan lepas kearah pintu masuk dan sekeliling ruangan. Posisi yang paling kusukai saat berada di restoran , karena aku bisa dengan leluasa memperhatikan para pegunjung keluar masuk. Seperti saat ini, sepasang suami istri yang bergandengan mesra dan gadis kecil berumur sekitas 4 tahun yang melompat-lompat riang masuk dan duduk persis di meja dihadapanku.

Keluarga yang bahagia, batinku. Suami yang gagah dengan pakaian yang rapi dan mahal, istri yang cantik anggun dan lebih banyak tersenyum saat suaminya bicara atau melihat anaknya yang tak bisa duduk diam. Si gadis kecil yang lucu dan menggemaskan.. Ah, keluarga idaman.

perfet

Anganku melayang, membayangkan aku dan Sandra dengan gadis kecil kami atau anak pertama aku lebih suka lelaki, menikmati malam, makan-makan di restoran atau bermain di arena anak, setelah lelah pulang kerja. Betapa nikmatnya hidup. Aku yakin seperti keluarga kecil dihadapanku, keluargaku kelak juga akan menjadi keluarga idaman. Aku merasa tak kalah gagah dibanding si suami, atau Sandra dimataku jauh lebih anggun dibanding si istri dan pasti anak kami lebih sempurna lagi kan ? Kulirik Sandra, dia masih asyik dengan makanan dipiring yang disuapnya perlahan. Begitu anggun.. begitu cantik dan…

PRAAANNNGGGG..

Suara piring jatuh dan pecah membuyarkan anganku. Si gadis kecil yang tak bisa diam menggigil ketakutan dalam tangis yang tertelan saat sang ayah menggapainya dan tergesa keluar dengan ekspresi yang tak bisa kuduga..

Rentetan nama binatang dan caci-maki menyerbu keluar dari mulut si istri yang terus mengibaskan gaunnya yang kotor tersiram saos dan kuah. Tak berhenti meski semua pengujung melongo heran dan takjub menatapnya…

Aku terpana tak tau apa yang kurasakan, imajinasiku buyar… Aku melirik Sandra yang hanya tersenyum kecil sambil menyuap makanannya….

319 kata. Gambar dari sini

Iklan

#31.. RA Kartini : Antara Keinginan dan Kenyataan

19 Apr

Duduk di teras rumah usang kami di sore menjelang malam, menikmati lelah mengejar hari. Beberapa .. empat atau lima .. ibu-ibu yang baru pulang bekerja menjadi buruh tanam padi didesa kami ini, lewat, dengan senyum lelah namun bahagia menyapa. Itu rutinitas yang nyaris setiap hari saya lalui, memandang lalu lalang jalanan. Seakan berkejaran dengan matahari yang turun perlahan meredupkan sinarnya, manusia pun bergegas, menuju rumah , tempat melabuhkan kepenatan.

Ini renungan yang sangat subjektif dari saya. Seorang manusia bertubuh kecil, otak yang kecil, dibawah “tempurung” saya yang juga kecil … hanya beberapa radius kilometer.. dunia tempat saya menghabiskan hari, waktu dan umur.

Bertahun yang lalu saat menikmati makan siang bersama petinggi kantor disebuah restoran ikan bakar yang terkenal, saya ingat celetukan bos saat melihat seorang pengemis perempuan berdiri didepan pintu (mungkin nggak berani masuk atau memang dilarang ) ” Siapa suruh miskin… ”

Saat itu, mungkin semua dari kami yang hadir tertawa termasuk saya. Saya nggak ngerti dalam konotasi apa sang bos berucap begitu, ucapan sekilas tanpa maksud apa-apa atau memang dari hati. Entah. Dan saya juga nggak ngerti kenapa saya ikut tertawa, masih terlalu naif dalam usia saya yang baru 22 tahun.

Sekarang kejadian itu tereka ulang dalam ingatan, saat melihat ibu-ibu buruh tani lewat di depan rumah. Bedanya, kali ini saya tidak duduk di sebuah restoran, tidak ada teman-teman kantor yang rapi dan wangi, tidak ada bos yang suka nyeletuk dengan santai dan tanpa rasa bersalah. Saya sendiri… dan kata-kata itu terngiang lagi ” Siapa suruh miskin ”

Kali ini saya tidak tertawa, malah berlinang air mata. Kali ini saya tak lagi senaif dulu. Kali ini saya telah mengerti maknanya. Kali ini saya telah mengerti arti kata itu…

Miskin itu bukan suruhan, miskin itu bukan pilihan, miskin itu bukan jawaban, miskin itu bukan…

Saya yakin, saat di rumah ibu-ibu tadi juga melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga : memasak, mencuci, beres-beres, merawat anak-anak…

Saya percaya, mereka terpaksa memilih jalan ini.

Saya percaya sesungguhnya mereka punya keinginan yang sama dengan wanita lain: kesenangan, kecantikan, perlindungan, kemapanan… semuanya … sama.

Tapi apalagi yang bisa dipertahankan saat gaji atau upah suami tak lagi mencukupi ?

Harga diri atau gengsi ?

Kemanjaan atau kulit yang harus tetap putih mulus ?

Menuntut tanggung jawab sementara suami telah menyerah dengan beberapa lembar rupiah ?

Istri harus berusaha memenuhi semua kebutuhan kan ?

Saya salut dengan mereka yang turun tangan, berbagi tanggung jawab dan turut menopang ekonomi keluarga.

Saya salut dengan mereka yang mau berkeringat, terbakar matahari, menggigil dibawah hujan, demi memenuhi kebutuhann keluarga.

Saya salut dengan mereka yang mau mengerti ketidakmampuan kepala keluarga dan mengulurkan tangan membantu bukan malah merongrong dengan kicauan penuh emosi yang bisa memancing sebuah kata pisah.

Saya salut dengan mereka yang keluar dari zona nyaman, walau harus berperang melawan batin saat meninggalkan buah hati di rumah.

Bukankah Kartini pun, setelah berjuang cukup lama tidak mendapatkan semua keinginannya ? Menyerah tunduk pada titah sang ayahanda.

Apakah lagi saya… manusia bertubuh kecil, dengan otak saya yang kecil, dibawah tempurung saya yang juga kecil…

Hidup memang harus terencana. Tapi bila semua rencana tinggal rencana..dan hidup tak lagi bisa dijamin dengan polis asuransi, lembaran saham, nominal investasi..

Apalagi yang bisa diperbuat selain menngenyahkan segala keinginan dan menghadapi kenyataan bukan.. ?

#30.. Dari Masa Lalu

11 Apr

4:15 pagi.

Dering HP mebangunkanku dari lelap yang baru sejenak,

“Ya..” tanpa melihat nomor yang masuk.

“Ini Nana ya”

” Betul.. ” Sejenak melirik nomor yang tak dikenal di layar

” Dinda Gerhana ? ”

” Iya.. ini siapa ?? ”

Klik.

Sialan. Siapa sih iseng banget. Ada keinginan buat nelpon balik. Sekedar memaki. Tapi sayang pulsa, paling juga dia sadar kalau sekarang masih terlalu pagi buat membangunkan orang. Lagian rugi, marah-marah hanya akan merusak hari.

Setengah menggerutu aku bangkit, melirik sesosok tubuh yang nyenyak dibuai mimpi. Baru 30 menit lalu dia pulang. Mabuk.

Tak ada salahnya memulai hari lebih awal jadi cucian lebih cepat kering.

***

Yang 150 atau 400 ratus ya. Duitnya sih cukup buat yang 400 tapi nanti buat lauk makan malam gimana ? Kalau beli yang 150 hanya bisa tahan dua hari. Arya memang kuat minum susu. Dering hp memecah kebimbangan..

” Lagi dimana ? ”

” Di Lotus… ini siapa sih ” Nomor yang masuk subuh tadi kembali tertulis di layar.

” OK.. tunggu di sana, 20 menit lagi aku sampai ”

Klik

Sialan yang kedua di hari ini. Tanda tanya dan rasa penasaran membuatku tetap bertahan di mini market ini, walau wajah polos Arya yang menunggu di rumah terbayang. Sambil mengitari rak demi rak, otakku berpacu menggali segala memori untuk mengingat suara yang masuk di hp tadi. Seorang teman lama ? Siapa ? Nana. Hanya keluarga dekat yang memanggilku begitu. Teman-teman lebih sering memanggilku Dinda. Jadi siapa ? Kali ini rasa penasaran lebih dominan dari rasa kesal, dan detik yang berubah ke menit makin membuat jantungku berdegup. Tanda tanya akan terjawab, walau aku tak tahu apa yang akan ku perbuat.

Adegan selanjutnya seperti kilas bayang yang tak terurai dengan cermat. Otakku tak mampu mencerna kenyataan.

Seorang laki-laki.
Kemeja putih rapi, jas di lengan.
Gagah.
Senyum canggung.
Hai.
Ternganga.

Aku merasa tanganku ditarik, dan kami duduk berhadapan di kafe sebelah mini market.

15 tahun, aku masih SMU, pergi kuliah, janji kembali, papa tidak setuju, mencari…Potongan-potongan kata mengambang diantara genggaman tangan dan bias air di pelupuk mata. Mataku dan matanya.

Hingga taksi membawanya pergi kesadaran itu tak jua penuh kumiliki. Kutatap langit saat sebuah pesawat melintas. Kukepalkan jemari dan sesuatu yang tipis dan keras terselip ditelapak tanganku.

“PIN-nya tanggal lahirmu. Aku menyimpannya sejak gaji pertama. Aku akan kembali dan membawamu pergi ”

Aku tersedu dalam isak tertahan. Berbisik lirih ” Darma….”

366 kata

#29.. Dibutuhkan Segera : Guru Spiritual

8 Apr


Persyaratan :

1. Pria (ganteng) Wanita (cantik )
2. Lulusan Universitas terkenal, IPK minimal 3.5
3. Pengalaman minimal 10 tahun
4. Mahir menggunakan komputer dan berbahasa Inggris
5. Mempunyai minat yang tinggi dibidang Spiritual
6. Bisa berkomunikasi dengan ramah, sabar dan lincah bersilat lidah
7. Bisa bekerja dalam Tim dan Target Oriented.
8. Money oriented
9. Suka pencitraan
10.Tahu dengan HAM
11.Bermuka tembok, lebih disukai
12.Pandai bermain siku (nyikut maksudne..)
13….

Maaf, ini sinisme hidup saya yang bosan dengan TV, liat orang grasak grusuk daftar jadi PNS , Caleg, Capres, nyogok nyari jabatan, korupsi di tiap kesempatan, bunuh-bunuhan karena hal kecil, ..hahh bener-bener negeri salah urus.

Nonton berita diare, nonton infotainment muntah, nonton sinetron mual, main laptop si inet sakau, mau keluar rumah langit lagi meratap..jadi..

Psstt.. ngemeng-ngemeng istri si eyang rambutnya assyik ya…hhhbuahha..ha..ha..jadi nggak ngerti orang ngomongin apa karena asyik ngeliat modelnya pengen coba ahhh.. buka jilbab dulu.. wkwkwkwkwkw..(ampuunnn .. jangan di santet )

HAPPY MONDAY EVERYBODY.. Semoga minggu ini lebih baik dari minggu kemaren ya…

#28.. Manusia dan Sang Penguasa

7 Apr

pray

Hanya coretan kecil hati yang bergemuruh

Tulisan ini terinspirasi dari ~Ra .

Setelah tak lagi memiliki orang tua, saya baru sadar saya tak akan lagi punya tempat mengadu. Hampir tiga bulan setelah kepergian mama, airmata adalah teman setiap saat. Dalam setiap hal yang dilakukan, bahkan saat makan siang bersama teman-teman kantor pun bisa menetes tak bisa ditahan. Kadang merasa malu sendiri tapi syukurlah teman-teman mengerti.

Saya bukan tipe orang yang bisa mengekspresikan perasaan dengan terbuka, dan mempercayai orang untuk mencurahkan isi hati adalah hal yang sulit. Hingga seringkali hati ini terasa penuh sesak dengan segala hal namun tak pernah bisa dilampiaskan.. dilepaskan .

Jalan satu-satunya hanyalah shalat..

Saat bersujud adalah saat terindah bagi saya. Saya membayangkan berada di depan pintu, memohon dengan mulut terkunci, karena saya tahu Sang Penguasa telah mengerti tiap tetes air mata yang tumpah.. saya tak perlu tinta untuk menuliskan.. saya tak perlu kuas untuk melukiskan … saya tak perlu aksara tuk menyampaikan.. saya tak bisa merangkai kata.. saya mengadu dalam diam…

Hati bicara dalam kesunyian dan DIA mendengarkan…

Setelah itu… semua terasa lepas dan bebas..

Dan saya bisa melipat mukena dengan senyum baru yang damai dan berbisik….” Saya siap dunia… ”

*gambar diambil dari sini