Arsip | Mei, 2013

#33.. Dua Episode

8 Mei

Episode Pertama

Siang yang terasa sempurna… Cucian udah melambai di jemuran bermandikan mentari, makan siang tersedia di meja, rumah kinclong tersapu bersih, dan suasana sepi karena hanya ada saya dan Yara yang asyik duduk diatas mobil-mobilannya.

Duduk anteng di lantai dengan sepiring nasi, tahu goreng campur teri, tumis kangkung hasil kebun sendiri…
Seharusnya saya duduk diam menikmati makan siang dalam sepi yang damai, namun selalu saja televisi menggoda karena tidak banyak kesempatan untuk menontonnya setelah anak-anak pulang sekolah.

Dan siang yang sempurna itu teriris sudah….saat pembaca berita membeberkan berita impor daging sapi, mobil-mobil mewah harga miliaran milik pribadi atau milik partai, wanita-wanita cantik yang mencuci uang (tidak seperti saya yang cuma bisa cuci baju, meski saya juga merasa cantik… 😦 ).

Saya cuma bisa termangu, menatap sepiring nasi yang tinggal setengah, tahu dan teri serta tumis kangkung…Pernahkah “mereka” berfikir tentang rakyat seperti saya yang tak kenal uang jangankan miliaran, jutaan pun tak pernah, yang merasa siangnya telah sempurna namun terenggut dengan segala kemewahan yang mereka pamerkan…?

Entahlah… separuh nafsu makan hilang, dan saya menyuap nasi sambil meraih remote berganti channel…

Episode Kedua

Yara turun dari mobil-mobilan dan ikut makan dari piring saya. Kami berebut sayur, saling menyuap ditingkah celoteh dan derai tawanya saat tangan kami beradu berebut gelas…

Dan kebahagian kami kembali terenggut… saat pembaca berita membeberkan berita perbudakan buruh yang terjadi di negeri ini. Saya ternganga, tak lagi tertawa bersama Yara… Terpaku menatap bilur-bilur bekas luka yang disorot dari jarak dekat. Hati saya lebih luka.

Benarkah manusia yang melakukan itu terhadap manusia lain ?

Dimana rasa ?
Dimana hati ?
Dimana nurani ?

Saya terpaku menatap sepiring nasi yang masih tinggal setengah, membiarkan Yara mengacak-acaknya saat beberapa air mata menetes jatuh ke piring. Mungkinkah yang saya makan ini dibuat di wajan hasil tetes keringat dan darah mereka ? Mungkinkah saya salah seorang yang membeli wajan itu ?

Entahlah…..seluruh nafsu makan lenyap seketika. Hati saya hampa..saya butuh mengadu…

Mengapa dua kontradiksi itu terjadi di siang saya yang seharusnya sempurna ???

Iklan