Arsip | Cerita Hidup RSS feed for this section

#46.. To The Man of My Life….

1 Nov

18 Tahun bukan waktu yang lama
Tuk menikmati cinta dengan segala likunya
berbagi cerita yang hanya kita lalui berdua
tertawa bahagia, senyum ceria, genggaman tangan
mengurai kata cinta
yang kadang membuat kita terpingkal
saking norak dan lucunya..

18 tahun bukan waktu yang singkat
tuk lalui segala nelangsa, airmata dan amarah
benci dan kecewa
mengeja kata murka
yang kadang membuat kita putus asa
akankah jalan terbagi dua…

Tapi disinilah kita..pada akhirnya
tetap bersama meniti jalan
yang tak pernah kita tau ujungnya
menjaga amanah yang DIA titip sepenuh hati
dan aku selalu percaya
memang engkaulah belahan jiwa..

Happy Anniversary….02-11-1996 02-11-2014

Iklan
Video

#45.. Pagi yang Menyentuh…..

9 Des

Pagi hari saat nyalain TV langsung terpana di depan layar

BUKAANNN… saya bukan lagi nonton sinetron yang jual mimpi mimpi bikin rusak generasi.

Saya bukan lagi ngeliat infotainment yang buka buka aib atau pamer pamer gaya hidup

Saya bukan lagi nonton para politisi sok sibuk ngurusin negeri

Saya bukan lagi nonton para pengamat politik/ekonomi/sosial lagi berkoar dalam program NATO (No Action Talk Only.!!! ) mereka.

Bukan itu semua…..tapi..

Saya terpaku meresapi setiap kata dan visual yang indah… kegigihan, peluh, semangat…

Terima kasih telah menularkan semangat ke pagi saya yang mendung dan basah

Terima kasih sudah mengingatkan saya untuk tidak mengajari anak dengan deretan kata tanpa teladan
Terima kasih untuk sebuah iklan yang telah membuat saya bersyukur punya TV hingga bisa melihat ini…

Terima kasih atas ide, kerja keras siapapun dibalik klip iklan ini kreator,bintang iklan,sutradara, copywriter, production house.. siapapun…

KALIAN SUNGGUH HEEEBBBAATTT…!!!

” Anakku tidak akan menang jika aku mengalah,
Anakku akan menang saat dia mengalahkanku,
saat itulah dia punya semangat juara
dan tidak bisa kuajarkan hanya dengan kata-kata,
Saat dia berhasil mengalahkanku, saat itulah aku menang
hanya ibu yang mengerti pentingnya menanamkan semangat bagi kehidupan anaknya
… “

#40… Arrgghhh Episode 2

8 Sep

Jadi.. daripada saya dibilang nggak bersyukur karena bisa ketemu matahari nyaris setiap hari sepanjang tahun, atau nggak tau terima kasih karena punya lahan yang cukup buat tanam-tanam… atau lagi… udah terlalu banyak duit apa-apa semua dibeli padahal bisa diambil dari pekarangan sendiri πŸ™‚ …. maka inilah sebagiannya :

tanaman tomat

tanaman tomat

rak berisi seledrei, daun bawang , bayam dan kangkung

rak berisi seledrei, daun bawang , bayam dan kangkung

tanaman kangkung

tanaman kangkung

tanaman caisin atau kami nyebutnya lobak pangsit

tanaman caisin atau kami nyebutnya lobak pangsit

Arrgghh…sekarang saya pengen punya kolam ikan plus isinya : gurame , nila dan sekalian KOI dan ARWANA

Plus peternakan sapi dan ayam sekalian KUDA…

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

Terima kasih ya buat teman-teman blogger yang udah support, especially Nella Silaen yang blognya sangat menginspirasi.. Danke…!!!

HAPPY SEPTEMBER TEMAN… SEMOGA MINGGU KEDUA INI LEBIH BAIK YA… πŸ˜‰

#37.. Arrrgghhhh….

19 Jul

Arrggghhh pengen jedotin jidat ke tembok…!!

Cabe 15 ribu seperempat kilo,

Bawang merah 12 ribu seperempat kilo,

Sayuran biasanya bisa 2000 sekarang 4000,

Ongkos ojek biasa 2000 perak sekarang jadi 3000,

Daging sapi 100.000 perkilo,

Ayam biasa 35.000 per ekor jadi 45.000 per ekor…

Telor 1250 per butir,

Tomat, bumbu, minyak, gas, listrik….

Buka dompet.. terpana…

Arrggghhhhh….Pengen mencekik tukang daging tapi takut…

TATONYA BANYAK…!!!!

#36.. Yang terlewatkan

18 Jul

Ini sebenarnya cerita sedih, karena banyak sekali hal-hal penting yang terlewatkan padahal saya udah niat banget “mencatat” perjalanan kami sekeluarga hingga suatu saat kami bisa napak tilas lagi… tapi ya sudahlah…seperti yang dibilang orang bijak ” sesuatu yang sangat jauh dan tak mungkin terjangkau adalah waktu yang telah kita tinggalkan” maka kini cuma bisa mengenangnya dalam tulisan..

15 April, Ulang Tahun Yazid

Iya, ini ultah Yazid si nomer 3 yang ke 9 tahun.

Seperti kebiasaan keluarga kami, hanya ada kue ulang tahun ( ini sih kewajiban Mama.. ) dan makan bersama.
Yang pasti ada banyak do’a dan harapan yang Mama panjatkan ke hadirat Allah semoga Yazid mendapatkan yang terbaik, yang terindah. Pasti kado dari Allah lebih istimewa.. ya kan, Nak… #elus-elus punggung Yazid…

Bulan Mei

Bulan pertentangan batin.. 😦

Akhirnya.. setelah dialog dan mikir panjang… bahtera kami berubah. Saya tak lagi jadi nakhoda, (narik nafas lega… walau masih gamang ) Papa Yara ngambil alih kemudi, dan saya berusaha memupuk kepercayaan bahwa kami mampu walau mulai dari nol ( mohon do’akan kami, teman…)

Semua pertimbangan bermuara ada kepentingan anak-anak, terlalu banyak waktu saya yang tersita hingga tak bisa mengikuti perkembangan anak-anak dan kami takut karena banyak kisah-kisah disekeliling yang mengisyaratkan agar tak jadi penyesalan.

Dan akhirnya saya meraih cita-cita… menjadi ibu rumah tangga tok… saja… titik…tanpa embel-embel lain.. πŸ™‚

BAHAGIA ? pastinya.. tapi ternyata jadi penadah ( minta duit maksudnya…) itu nggak enak ya…Jadi, mulai bisnis apa lagi ya yang bisa di rumah … (yee…. nggak jadi dong cita-citanya… ha…ha… ) tapi suer kok saya malah bingung bagi waktunya ya…heiiiraannn…makin banyak waktu, ritme kerja makin berantakan, banyakan ntar-nya πŸ˜›

Bulan Juni

Ada beberapa moment yang terlewat di bulan ini.

Ultah Mama Yara ( eiitt terima kasih buat yang ngasih selamat… #ha..ha… PD overdosis )

Tanggal 8 Juni,… kencan berdua Yaris ( boong sih,sebenarnya rame-rame satu sekolahan ) tapi yang bikin kesal, HP ketinggalan, android memorynya full ( salah mama juga sih lupa ngecek malam sebelumnya) dan sayang buat ngapus foto/video yang sudah ada jadinya nggak ada foto sama sekali.. cuma nebeng di jepretan teman-teman.

Sampe disitu aja… ? Nggak… masih ada..

Rute yang berubah gara-gara ada Tour de Singkarak jadi jalan ke arah Bukit Tinggi di tutup sementara hingga terpaksa putar balik ke arah Padang, terjebak macet nyaris 3 jam sepanjang Padang Panjang – Padang. Sampai di Padang udah jam 5 sore, yyaaahh… cuma bisa nonton sunset di pantai dan… pulang karena anak-anak udah pada capek dan rewel.

Bener-bener kencan yang gagal total !!! 😦

Tanggal 25 Juni,.. Yaris mendaftar sekolah ke SD… horeee… anak ganteng mama semua beranjak gede ya…
Pendaftarannya sendiri penuh perjuangan karena… telat satu hari dan kehabisan formulir.. 😦 Untunglah wajah memelas mama dan wajah ganteng Ajo jadi pertimbangan ( ha..ha… )

Akhirnya bisa… Alhamdulillah.

Telatnya gara-gara fotonya harus pake seragam SD, nggak bisa foto dari TK-nya.. dan tau sendiri ramenya studio foto pas hari pertama pendaftaran dibuka.. hu..hu .. nunggu satu hari emang bikin saya deg-degan, tapi dengan Bismillah dan do’a yang kenceng masalah teratasi.

Selamat jadi anak baru ya sayang… ( walau sekolahnya mulai 15 Agustus nanti. πŸ™‚ )

Tanggal 24 Juni,…

Satu hal lagi yang bikin pendaftaran Yaris telat karena… Yafie mendaftar kesekolah baru LAGI !!! Jadwalnya bentrok deh… 😦

Yaaa… akhirnya kami menyerah. Yafie emang nggak bisa kos dan mandiri. Seperti pernah saya cerita dulu, Yafie memang butuh pengawasan ekstra, dan itu berarti di rumah !!. Pilihannya ke SMU dan SMU favorit seleksinya ketat sekali bikin ketar-ketir mana pendaftaran gelombang pertama udah tutup, syukurlah ada penerimaan kedua.

Akhirnya, setelah penuh do’a dan airmata ( hiks.. cukup Tuhan yang tau ), Yafie diterima..
Belajar yang rajin dan sungguh-sungguh ya, Nak… Mama yakin semua ada hikmahnya.

Buat teman-teman blogger, ada masukkan nggak gimana mengatasi anak yang sulit dibangunkan ? Saya harus pake senjata segelas air buat cuci muka membangunkan Yafie… aneh.. padahal dulu nggak gitu-gitu amat.. 😦

Udah dulu ya.. ntar disambung lagi… (kan !! banyakan ntarnya… he..he.. )

Buat menghibur diri yuuk dengerin lagu aja…

#33.. Dua Episode

8 Mei

Episode Pertama

Siang yang terasa sempurna… Cucian udah melambai di jemuran bermandikan mentari, makan siang tersedia di meja, rumah kinclong tersapu bersih, dan suasana sepi karena hanya ada saya dan Yara yang asyik duduk diatas mobil-mobilannya.

Duduk anteng di lantai dengan sepiring nasi, tahu goreng campur teri, tumis kangkung hasil kebun sendiri…
Seharusnya saya duduk diam menikmati makan siang dalam sepi yang damai, namun selalu saja televisi menggoda karena tidak banyak kesempatan untuk menontonnya setelah anak-anak pulang sekolah.

Dan siang yang sempurna itu teriris sudah….saat pembaca berita membeberkan berita impor daging sapi, mobil-mobil mewah harga miliaran milik pribadi atau milik partai, wanita-wanita cantik yang mencuci uang (tidak seperti saya yang cuma bisa cuci baju, meski saya juga merasa cantik… 😦 ).

Saya cuma bisa termangu, menatap sepiring nasi yang tinggal setengah, tahu dan teri serta tumis kangkung…Pernahkah “mereka” berfikir tentang rakyat seperti saya yang tak kenal uang jangankan miliaran, jutaan pun tak pernah, yang merasa siangnya telah sempurna namun terenggut dengan segala kemewahan yang mereka pamerkan…?

Entahlah… separuh nafsu makan hilang, dan saya menyuap nasi sambil meraih remote berganti channel…

Episode Kedua

Yara turun dari mobil-mobilan dan ikut makan dari piring saya. Kami berebut sayur, saling menyuap ditingkah celoteh dan derai tawanya saat tangan kami beradu berebut gelas…

Dan kebahagian kami kembali terenggut… saat pembaca berita membeberkan berita perbudakan buruh yang terjadi di negeri ini. Saya ternganga, tak lagi tertawa bersama Yara… Terpaku menatap bilur-bilur bekas luka yang disorot dari jarak dekat. Hati saya lebih luka.

Benarkah manusia yang melakukan itu terhadap manusia lain ?

Dimana rasa ?
Dimana hati ?
Dimana nurani ?

Saya terpaku menatap sepiring nasi yang masih tinggal setengah, membiarkan Yara mengacak-acaknya saat beberapa air mata menetes jatuh ke piring. Mungkinkah yang saya makan ini dibuat di wajan hasil tetes keringat dan darah mereka ? Mungkinkah saya salah seorang yang membeli wajan itu ?

Entahlah…..seluruh nafsu makan lenyap seketika. Hati saya hampa..saya butuh mengadu…

Mengapa dua kontradiksi itu terjadi di siang saya yang seharusnya sempurna ???

#31.. RA Kartini : Antara Keinginan dan Kenyataan

19 Apr

Duduk di teras rumah usang kami di sore menjelang malam, menikmati lelah mengejar hari. Beberapa .. empat atau lima .. ibu-ibu yang baru pulang bekerja menjadi buruh tanam padi didesa kami ini, lewat, dengan senyum lelah namun bahagia menyapa. Itu rutinitas yang nyaris setiap hari saya lalui, memandang lalu lalang jalanan. Seakan berkejaran dengan matahari yang turun perlahan meredupkan sinarnya, manusia pun bergegas, menuju rumah , tempat melabuhkan kepenatan.

Ini renungan yang sangat subjektif dari saya. Seorang manusia bertubuh kecil, otak yang kecil, dibawah “tempurung” saya yang juga kecil … hanya beberapa radius kilometer.. dunia tempat saya menghabiskan hari, waktu dan umur.

Bertahun yang lalu saat menikmati makan siang bersama petinggi kantor disebuah restoran ikan bakar yang terkenal, saya ingat celetukan bos saat melihat seorang pengemis perempuan berdiri didepan pintu (mungkin nggak berani masuk atau memang dilarang ) ” Siapa suruh miskin… ”

Saat itu, mungkin semua dari kami yang hadir tertawa termasuk saya. Saya nggak ngerti dalam konotasi apa sang bos berucap begitu, ucapan sekilas tanpa maksud apa-apa atau memang dari hati. Entah. Dan saya juga nggak ngerti kenapa saya ikut tertawa, masih terlalu naif dalam usia saya yang baru 22 tahun.

Sekarang kejadian itu tereka ulang dalam ingatan, saat melihat ibu-ibu buruh tani lewat di depan rumah. Bedanya, kali ini saya tidak duduk di sebuah restoran, tidak ada teman-teman kantor yang rapi dan wangi, tidak ada bos yang suka nyeletuk dengan santai dan tanpa rasa bersalah. Saya sendiri… dan kata-kata itu terngiang lagi ” Siapa suruh miskin ”

Kali ini saya tidak tertawa, malah berlinang air mata. Kali ini saya tak lagi senaif dulu. Kali ini saya telah mengerti maknanya. Kali ini saya telah mengerti arti kata itu…

Miskin itu bukan suruhan, miskin itu bukan pilihan, miskin itu bukan jawaban, miskin itu bukan…

Saya yakin, saat di rumah ibu-ibu tadi juga melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga : memasak, mencuci, beres-beres, merawat anak-anak…

Saya percaya, mereka terpaksa memilih jalan ini.

Saya percaya sesungguhnya mereka punya keinginan yang sama dengan wanita lain: kesenangan, kecantikan, perlindungan, kemapanan… semuanya … sama.

Tapi apalagi yang bisa dipertahankan saat gaji atau upah suami tak lagi mencukupi ?

Harga diri atau gengsi ?

Kemanjaan atau kulit yang harus tetap putih mulus ?

Menuntut tanggung jawab sementara suami telah menyerah dengan beberapa lembar rupiah ?

Istri harus berusaha memenuhi semua kebutuhan kan ?

Saya salut dengan mereka yang turun tangan, berbagi tanggung jawab dan turut menopang ekonomi keluarga.

Saya salut dengan mereka yang mau berkeringat, terbakar matahari, menggigil dibawah hujan, demi memenuhi kebutuhann keluarga.

Saya salut dengan mereka yang mau mengerti ketidakmampuan kepala keluarga dan mengulurkan tangan membantu bukan malah merongrong dengan kicauan penuh emosi yang bisa memancing sebuah kata pisah.

Saya salut dengan mereka yang keluar dari zona nyaman, walau harus berperang melawan batin saat meninggalkan buah hati di rumah.

Bukankah Kartini pun, setelah berjuang cukup lama tidak mendapatkan semua keinginannya ? Menyerah tunduk pada titah sang ayahanda.

Apakah lagi saya… manusia bertubuh kecil, dengan otak saya yang kecil, dibawah tempurung saya yang juga kecil…

Hidup memang harus terencana. Tapi bila semua rencana tinggal rencana..dan hidup tak lagi bisa dijamin dengan polis asuransi, lembaran saham, nominal investasi..

Apalagi yang bisa diperbuat selain menngenyahkan segala keinginan dan menghadapi kenyataan bukan.. ?

#28.. Manusia dan Sang Penguasa

7 Apr

pray

Hanya coretan kecil hati yang bergemuruh

Tulisan ini terinspirasi dari ~Ra .

Setelah tak lagi memiliki orang tua, saya baru sadar saya tak akan lagi punya tempat mengadu. Hampir tiga bulan setelah kepergian mama, airmata adalah teman setiap saat. Dalam setiap hal yang dilakukan, bahkan saat makan siang bersama teman-teman kantor pun bisa menetes tak bisa ditahan. Kadang merasa malu sendiri tapi syukurlah teman-teman mengerti.

Saya bukan tipe orang yang bisa mengekspresikan perasaan dengan terbuka, dan mempercayai orang untuk mencurahkan isi hati adalah hal yang sulit. Hingga seringkali hati ini terasa penuh sesak dengan segala hal namun tak pernah bisa dilampiaskan.. dilepaskan .

Jalan satu-satunya hanyalah shalat..

Saat bersujud adalah saat terindah bagi saya. Saya membayangkan berada di depan pintu, memohon dengan mulut terkunci, karena saya tahu Sang Penguasa telah mengerti tiap tetes air mata yang tumpah.. saya tak perlu tinta untuk menuliskan.. saya tak perlu kuas untuk melukiskan … saya tak perlu aksara tuk menyampaikan.. saya tak bisa merangkai kata.. saya mengadu dalam diam…

Hati bicara dalam kesunyian dan DIA mendengarkan…

Setelah itu… semua terasa lepas dan bebas..

Dan saya bisa melipat mukena dengan senyum baru yang damai dan berbisik….” Saya siap dunia… ”

*gambar diambil dari sini